Selasa, 21 Februari 2012

Bahasa Indonesia

Pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh Bapak Ibu Guru sejak bangku Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, bahkan sampai ke Perguruan Tinggi kita masih terus mempelajari Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga merupakan mata pelajaran yang diikutsertakan dalam EBTANAS (jaman dulu) atau kalau jaman sekarang disebut dengan UAN.
Apakah pelajaran Bahasa Indonesia merupakan sesuatu yang penting?. Jawabannya iya, sangat penting. Kenapa penting, Salah satu alasannya adalah agar kita bisa menulis, berbicara dan menyampaikan ide dengan baik.

Tidak bisa disangkal bahwa siswa cenderung menganggap pelajaran bahasa Indonesia itu menjemukan. Ia dianggap enteng, dan mengarah pada disepelekan. Teori-teori dijejalkan namun aplikasinya tidak terasa dalam kehidupan. Siswa hanya sibuk menghafal syarat-syarat pantun, unsur-unsur intrinsik sebuah cerita, penulisan huruf kapital dan tanda baca, macam-macam paragraf, dll. Yang penting, bisa menjawab soal ulangan dan mendapat nilai bersinar.
Bila dikaji, sebenarnya inti pelajaran bahasa Indonesia adalah membaca dan menulis. Dua kemampuan ini juga secara umum merupakan modal dasar dalam mencari ilmu. Maka, mendorong siswa untuk suka membaca dan menulis adalah sebuah keniscayaan dalam interaksi pelajaran bahasa Indonesia.
Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang tidak bisa dielakkan dalam kehidupan ini. Menjadi apa pun seseorang, membaca sangat penting untuk membuka cakrawala pandangnya tentang pengetahuan dan informasi-informasi terkini. Membaca adalah jembatan untuk melihat dunia, karena buku merupakan gudang ilmu, sumur informasi yang tak pernah kering. Sedangkan menulis, dibutuhkan agar seseorang terampil menuangkan gagasan dan ilmu yang dimilikinya, sehingga tersebar luas di masyarakat.
Rupa-rupa teori dalam materi pendukung pelajaran bahasa Indonesia harus dipahami sebagai sarana menuju kegiatan menulis. Sehingga siswa menghafal bukan semata demi pencapaian nilai ulangan, namun tumbuh kesadaran bahwa hal-hal tersebut berguna dalam proses membuat tulisan yang baik.
Kegiatan membaca bukan sekedar membaca lalu selesai. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, siswa dituntun agar mampu membuat resensi yang baik, menyimpulkan sebuah gagasan, mengulas pokok bahasan, menyampaikan presentasi mengenai isi buku, mengupas unsur-unsur yang terkandung dalam cerita, dsb. Maka, kegiatan membaca dan menulis saling terkait.
Dalam hal menumbuhkan gairah membaca dan menulis, diawali oleh kemapanan pengetahuan tentang bahasa Indonesia yang dimiliki guru. Alternatif yang bisa ditempuh yaitu melalui pembekalan-pembekalan yang digelontorkan oleh praktisi perbukuan yang paham benar tentang kecerdasan berbahasa. Para guru perlu mengeksplorasi kemampuannya agar siap menggiring siswa menuju gerbang kecerdasan berbahasa (baca: membaca dan menulis).

Guru Bahasa Indonesia, Seperti Apa?
Menjadi guru bahasa Indonesia bukan perkara mudah. Ia butuh keahlian mumpuni seperti halnya guru-guru bidang studi lain. Bukan menjadi pilihan terakhir yang dianggap paling sederhana dan enteng dijalankan.
Seorang guru bahasa Indonesia dituntut cerdas dan mengasyikkan. Kreativitasnya dibutuhkan untuk mengasah siswa dalam kecerdasan berbahasa. Siswa disodorkan buku-buku karya sastra yang baik untuk dibaca dan ditelaah. Dibekali pula dengan ilmu meracik kata secara intens.Bagaimana membuat deskripsi yang cantik, membangun tokoh dengan karakter yang kuat, menulis esai yang bernas, membuat poster yang menggigit, meresensi buku dengan cerdas, mencipta slogan yang renyah,dll. Maka pelajaran bahasa Indonesia menjadi penuh kegiatan yang menggairahkan.
Dalam hal menulis, siswa sebaiknya dibuat akrab dengan kertas dan pena. Mereka dikondisikan untuk tidak memiliki ketergantungan pada komputer dan sejenisnya. Tujuannya agar di mana pun berada, mereka tetap bisa menulis dengan cukup bermodalkan kertas dan pena.
Tugas-tugas menulis bagi siswa harus memberi ruang yang lapang untuk mengeksplorasi imajinasi dan olah pikir, yang paduannya menghasilkan karya tulis apik dengan tema-tema menarik. Siswa terbiasa lincah memainkan kemampuan olah kata, keliaran imajinasi, keseimbangan logika, kedalaman olah pikir, dalam tarian pena mereka.
Yang tidak kalah penting, guru bahasa Indonesia juga harus mengerti betul pentingnya sebuah apresiasi. Dalam setiap penilaian tugas, seyogianya ditulis beberapa baris kalimat penyemangat berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan siswa. Meski hasil pekerjaan kurang memuaskan, setidaknya ia sudah berusaha. Karena kegiatan menulis ini bukan berarti mengharuskan siswa menjadi penulis profesional. Siswa diharapkan mampu menuangkan ide setelah mengendus sisi-sisi kehidupan bermasyarakat. Maka, slogan ‘katakan dengan tulisan’ menjadi bagian dari kebiasaan mereka.
Bila dilihat lebih jauh, pilihan menyampaikan gagasan secara verbal yang lebih dominan, menjadikan seseorang lebih spontan dan mudah tersulut. Demo-demo mahasiswa tidak jarang berujung kekerasan. Padahal mahasiswa sebagai cikal bakal kaum intelek negeri ini sudah selayaknya menampilkan model bermasyarakat yang elegan dan bermartabat. Jika pelajaran bahasa Indonesia sejak dini merasuk sempurna, bukan tidak mungkin generasi muda kita tampil sebagai generasi cerdas dan berkualitas.
Semoga para guru bahasa Indonesia lebih memahami peran dan fungsinya. Mereka akan sanggup mengubah tampilan pelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih berbobot tanpa meninggalkan unsur menyenangkan. Mereka adalah kekuatan besar yang harus siap mengantarkan siswa sebagai generasi masa dating yang memiliki kecintaan dan kemapanan berbahasa Indonesia.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar